Mencari naskah kuno sasak bersama sahabat
Assalamu allaikum guys, semoga blog saya ini bermanfaat buat kalian semua yaaa
Perkenalkan nama saya Ulfa dwiyanti bisa di panggil Ulfa, saya berasal dari Bima tapi aku tinggal di Lombok untuk menuntut Ilmu, Aku mahasiswa Universitas Mataram program studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, saya akan menceritakan tentang perjalanan saya mencari naskah kuno, sejarah lampau, mulai dari peninggalan, peperangan, dan silsialh keturunan yang tersisa Pada hari selasa tanggal 22 oktober 2019 tepatnya hari selasa tanggal 22 oktober 2019 tepatnya hari jadi santri, di perjalana saya banyak melihat festifal meryakan hari santri, seru banget perjalannya di setiap jalan saya banyak melihat masjid, nyongkolan, yaa cerita tentang nyongkolan. Tentang dan apa maksud nyokloasn yang saya lihat itu di ceritan oleh teman saya wintan dia tinggal di Lombok, yang memakai baju nyongkolan berbeda-beda itu yang menjadi pertanyaan saya karena ada yang memakai keris dan ada yang tidak. Saya melihat salah satu mereka memakai keris dan yang satunya tidak dari penjelasan teman saya bahwa yang memakai keris itu adalah keturunan kerajaan dan yang tidak memakai keris itu adalah orang biasa. Setelah melewati perjalann yang jauh akhirnya kita sampe juga di tempat tujuan yaitu Desa kateng, kadus tubruk pasak siji, Loteng. Huummm, panas teriknya matahari luar biasa tapi kami menikamtinya dengan pemandangam sekitar. Setelah melakukan perjalan jauh akhrinya kami beristrahat di suatu tempa yantiu rumah temannya teman kami yang bernama Yohana. Setelah beristrahat di rumahnya yohana kamipun di antar ke rumah orang yang mempunyai naskah kuno tersebut.
Setelah kita sampai di rumah pah H.Lalu hamzah, di sana kami di layani dengan sangat baik dan sopan dan di berikan jajan dan teh. Beliau menceritakan bahwa sasak berasal dari Bali asli sehingga bahasa sasak mirip dengan bahasa Bali asalnya memang nenek moyang kita masih budha dan sampai sekarang misalnya sabuk dewe beliau mengatkan orang Budha yang mempunyai dewe itu makanya budaya itu masih di pakai sampai sekarang. Dia menceritakan tentang naskah kuno Takepan Sasak yaitu naskah yang kuno yang di tulis di atas daun lontar dan dan di rangkai menjadi stu kesatuan dengan cara diikat di tengah Takepan Sasak ini pada umumnya menggunakan bahasa kawi dan bahasa Sasak. Dalam perkembangannya ada asimilasi bahasa antara bahasa kawi dan bahasa sasak dalam takepan untuk mencapai guru lagu dan sekaligus membangun rima puitiknya. Isinya Takepan Sasak terdiri dari beberapa macam tema, di antaranya wayang menak, kisah-kisah hikmah, babad, perumpamaan, imlu pengetahuan dan lain-lain. Takepan juga memiliki keunikan dalam gaya tulisannya seperti yang kalian lihat ini. Tulisan-tulisan khas ini dalam kalangan para kawi di kenal dengan nama sarag. Ini contohny gambarnya
Takepan di gunakan berbagai macam cara katanya, misalkan menggunakan bahasa kawi pembayun di orang menikah contoh bacaannya “si nggih yang artinya( iya) ampure agung gin mani winten sisih lomlempir tindak tanduk sersip sessile dewek titian pundik paparak dewek matuk agung-agung sinampure pingsiu”. Yang menerima menjawab “awinan dewek titian pundak kaparak antuk kepala desa katen namanya seperti sekarang ini Lalu syarafuddin kapindo kadus denmas dengan kadus deman ping kali daig sekeduanya ping kalih dalih prenglisir-penglisir dwek titian pun nikih tindih kayang panganturan sejati ingin mengabarkan bahwa seseorang telah menikah dengan seorang gadis yang bernama misalkan “memun”. Pembayun ini di gunakan di manapun dan cara ini masih di gunakan seperti sengkeol, mantang, gerung. Naskah kuno ini juga dapat di gunakan saat mace. Menggunakn takepan di baca semalaman suntuk sambal nemmbang sebelum melakukan nyongkol. Harus utes doe( puluhan orang menggunakan bahasa kawi di bawah taring). Dan adapun naskah kuno yang di ucapkan “dani dani sarang sami, ampure para datu raden. Singgih, dani kanjang wijaksane. Menaq, buling, perwangse triwangse-wangse, kiayai labe penghulu khatib bilal marbot, santir-santri kabeh.
Sampai di sini aja saya mencertiakan tentang naskah kuno saya yang saya dapat sempga bemanfaat bagi kalian, yang kalian ketahu bahwa naskah kuno ini jarang yang ada mau mempelajari apalagi anak zaman sekarang, susah sekali untuk mendapatakan penerus yang mau mempelajari naskah kuno ini apalagi di desa beliau dia sangat sulit mendapatkan penerus untuk dirinya dia takut naskah kuno ini akan berakhir kalau dia gak ada di dunia ini. Kamipin sangat sedih di situ tapi bapak bilang dia sangat senang kalau kami bertanya tanya tentang takapan ini.



Sangat menarik #budayasasak
BalasHapuspengetahuan saya bertambah dengan membaca postingan ini, sangat bermanfaat..terimkasih kak
BalasHapussangat bermanfaar
BalasHapusMenarik bgt sis👍
BalasHapusGood😍
BalasHapus